Candi Singasari

Siapapun Anda yang pernah berkunjung ke kota Malang, Jawa Timur, pasti menikmati tinggal di kota pelajar yang tenang dan sejuk ini. Tapi tahukan Anda bahwa kota ini menyimpan tempat-tempat wisata historis yang menarik untuk dikunjungi?

Jika kita selalu mengidentikkan candi dengan Jawa Tengah, maka anggapan ini tidak lagi benar, karena Malang juga memilikinya. Sebuah candi yang dibangun untuk memperingati wafatnya Raja Singosari, Raja Kertanegara, telah menjadi salah satu tempat wisata di Kabupaten Malang. Candi ini adalah candi Singosari, atau candi “Singhasari”, yang merupakan bangunan  tempat pemujaan raja atau leluhur raja .

Terletak di lembah yang sejuk, di sebuah desa yang tenang, di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna, candi Singosari dapat dijangkau sekitar 40 menit  dari kota Malang, tepatnya di desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang (sekitar 10 km sebelah utara dari kota Malang).

Sebuah pemandangan historis sudah menyambut kita sebelum sampai ke candi ini. Kosariarena tidak jauh dari candi ini maka kita  akan menemukan dua arca besar  setinggi hampir 3,70 m yang bernama Dwarapala, masih berdiri di tempatnya yang asli, merupakan penjaga jalan menuju ke percandian.

Bangunan candi Singosari  terbuat dari batu dan berbentuk bujursangkar. Candi ini kaya akan ornament ukiran, arca dan relief, dan  menghadap ke arah barat.  Dengan tinggi sekitar 2 m, candi ini dibangun ramping dan atapnya berbentuk limas. Di dalam ruang utama terdapat lingga dan yoni. Terdapat juga bilik-bilik lain, di utara (dulu berisi arca Durga yang sudah hilang), di timur dulu berisi arca Ganesa, serta sisi selatan berisi arca Siwa Guru (Resi Agastya). Tetapi sekarang ini  hanya arca Guru yang tertinggal, sedangkan arca-arca lainnya sudah tidak ada di tempatnya.  Di komplek candi ini juga berdiri arca Prajnaparamita, dewi kebijaksanaan, yang sekarang ditempatkan di  Museum Nasional, Jakarta.. Arca-arca lain berada di Institut Tropika Kerajaan di Leiden, Belanda terkecuali arca Agastya. Candi Singasari baru mendapat perhatian dari pemerintah kolonial Hindia Belanda  pada awal abad ke-20 dalam keadaan berantakan. Restorasi dimulai pada tahun 1934 dan bentuk yang sekarang dicapai pada tahun 1936.
Bentuk bangunan Candi Singosari sendiri bisa dibilang istimewa, karena candi itu seolah-olah mempunyai dua tingkatan. Seharusnya bilik-bilik candi berada pada bagian badan candi, pada Candi Singosari justru terdapat pada kaki candi. Bilik-bilik tersebut pada awalnya juga terdapat arca didalamnya yakni disebelah utara berisi arca Durgamahisasuramardhini, sebelah timur berisi arca Ganesha dan dibagian selatan terdapat arca Resi Guru yang biasa terkenal dengan sebutan Resi Agastya. Namun saat ini hanya tinggal arca Resi Agastya saja, sedangkan arca lainnya telah dibawa ke Leidan – Belanda. Alasan mengapa arca resi Agastya tidak dibawa serta ke Belanda adalah mungkin dikarenakan kondisinya yang sudah rusak cukup parah, sehingga tidak layak dibawa sebagai hadiah kepada penguasa negeri belanda pada saat itu.

Hal lain yang menarik untuk diamati pada Candi Singosari ini adalah hiasan candi. Umumnya bangunan candi dihias dengan hiasan yang rata pada seluruh badan atau bagian candi. Pada Candi Singosari kita tidak mendapatkan hal yang demikian. Hiasan Candi Singosari tidak seluruhnya diselesaikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Candi Singosari dahulu belum selesai dikerjakan tapi kemudian ditinggalkan. Sebab-sebab ditinggalkan tersebut dihubungkan dengan dengan adanya peperangan, yaitu serangan dari raja Jayakatwang dari kerajaan Gelang-gelang terhadap Raja Kertanegara kerajaan Singhasari yang terjadi pada sekitar tahun 1292. Serangan raja Jayakatwang tersebut dapat menghancurkan kerajaan Singhasari. Raja Kertanegara beserta pengikutnya dibunuh.  Diduga  karena masa kehancuran (pralaya) kerajaan Singhasari itulah, maka Candi Singosari tidak terselesaikan dan akhirnya terbengkalai.

Ketidak selesaian bangunan candi ini bermanfaat juga bagi kita yang ingin mengetahui teknik pembuatan ornamen (hiasan) candi. Tampak bahwa hiasan itu dikerjakan dari atas ke bawah. Bagian atas dikerjakan dengan sempurna, bagian tubuh candi (tengah) sebagian sudah selesai sedangkan bagian bawah sama sekali belum diselesaikan.

Dihalaman Candi Singosari masih terdapat beberapa arca yang tersisa, beberapa diantaranya berupa tubuh dewa/dewi meskipun bisa dibilang tidak utuh lagi. Bahkan terdapat satu arca Dewi Parwati yang memiliki bagian kepala yang terlihat “aneh”. nampaknya bagian tersebut bukan merupakan kepala arca yang sebenarnya. Karena kepala arca yang sebenarnya diduga putus dan tidak ditemukan kembali.

Di lapangan ditemukan sebuah  prasasti berangka tahun 1351 M. Dari tulisan dalam prasasti ini para ahli sejarah menyimpulkan  bahwa  Candi Singosari erat dihubungkan dengan raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari. Bangunan ini kemungkinan didirikan bersamaan dengan upacara sraddha , sebuah upacara  untuk memperingati 12 tahun sesudah raja wafat pada tahun 1304 M,  dalam masa pemerintahan Raden Wijaya, raja Majapahit I.

Catatan lain dari Kakawin Nagarakertagama karangan Prapanca, pupuh XLII-XLIII, menyebutkan bahwa Raja Kertanegara adalah seorang raja yang sangat terpandang. Dituliskan bahwa ia menguasai segala macam ilmu pengetahuan seperti Sadguna (ilmu ketatanegaraan), Tatwopadeso (ilmu tentang hakikat), patuh pada hukum, teguh dalam menjalankan ketentuan-ketentuan agama yang berhubungan dengan pemujaan Jina (apageh ing jinabrata), tekun berusaha dalam menjalankan prayogakrya (ritus-ritus tantra).  Kertanegara adalah raja terakhir Kerajaan Singosari yang memerintah tahun 1268-1292 M.  Ia gugur dalam satu pemberontakan yang dipimpin Jayakatwang, raja bawahaannya. Candi Singosari dibangun untuk memperingati kematiannya

Jika kita menginginkan wisata yang berbeda, kunjungilah candi Singosari. Menikmati sebuah peninggalan sejarah akan memberikan pengalaman tersendiri bagi kita. Tentunya menambahkan kebanggaan kita menjadi bangsa Indonesia dengan warisan budayanya yang begitu kaya.

%d bloggers like this: